Kenapa sih kita suka membesar-besarkan hal yang kecil ?

Aditya Osama Hakim Efendy
3 min readMar 25, 2023

Pernah gak ketika kita dihadapkan pada sesuatu atau melihat orang dalam suatu kondisi tertentu membesar-besarkan hal yang sebenarnya tidak perlu, nah ternyata itu semua merupakan psikologi dasar dari manusia.

Ada buku yang cukup menarik dalam membahas psikologi dasar manusia yaitu bukunya “Thinking, Fast and Slow” Daniel Kahneman. Buku ini sangat terkenal dalam bidang psikologi kognitif dan perilaku ekonomi. Buku ini ngebahas dua sistem pikiran manusia yaitu sistem pikiran cepat dan sistem pikiran lambat, dan bagaimana sistem ini mempengaruhi cara kita berpikir dan membuat keputusan.

Salah satu konsep menarik dan relate ke keseharian kita yaitu buku ini ngebahas tentang “membesar-besarkan hal yang kecil”. Konsep ini mengacu ke kecenderungan manusia untuk memberikan bobot yang berlebihan pada detail-detail kecil atau kejadian-kejadian yang gak penting, sehingga membuatnya tampak lebih penting dari pada yang seharusnya.

Nah dalam konteks keseharian kita, hal ini cukup mudah terlihat dalam banyak situasi, contohnya ketika seseorang lagi mengevaluasi dirinya sendiri berdasarkan satu kesalahan kecil yang dilakukannya, atau ketika seseorang membuat keputusan besar berdasarkan satu kejadian yang terjadi secara tidak sengaja.

Contoh lain yang bisa kita lihat adalah ketika seseorang gagal dalam ujian kecil atau tugas kecil yang gak terlalu berpengaruh. Mereka mungkin merasa sedih atau merasa bahwa mereka bodoh atau tidak kompeten yang berlebihan, padahal kegagalan ini seharusnya gak mempengaruhi pandangan mereka terhadap kemampuan mereka secara keseluruhan.

Tapi, manusia itu punya kecenderungan untuk membesar-besarkan hal yang kecil sehingga dapat mempengaruhi mengambil keputusan dalam pekerjaan atau hal-hal besar seperti keuangan. Sebagai contoh, seorang investor mungkin membuat keputusan untuk beli saham/crypto tertentu berdasarkan satu informasi kecil yang didapat, seperti rekomendasi teman, tanpa ngegali lebih dalam untuk ngedapetin faktor-faktor pendukung lainnya.

Di buku ini juga, Kahneman ngejelasin bahwa kecenderungan kita sebagai manusia untuk membesar-besarkan hal kecil itu ada kaitannya dengan sistem pikiran cepat kita. Sistem pikiran cepat adalah cara berpikir yang cepat, intuitif, dan cenderung dipengaruhi oleh emosi dan perasaan. Sistem ini lebih cenderung memberikan bobot yang berlebihan pada informasi baru atau informasi yang memicu emosi, ketimbang melakukan evaluasi yang objektif dan rasional.

Kahneman juga berpendapat bahwa kecenderungan manusia untuk membesar-besarkan hal kecil dapat mengarah pada bias yang dikenal sebagai “efek framing”. Efek framing ini terjadi ketika seseorang memberikan bobot yang berbeda pada informasi yang sama, tergantung pada bagaimana informasi tersebut disajikan. Seseorang mungkin lebih cenderung membuat keputusan ketika informasi disajikan dalam format positif daripada format negatif, meskipun informasi tersebut sama.

Contohnya ada penawaran investasi yang dijelaskan dengan dua cara berbeda yaitu Anda akan kehilangan 20% dari nilai investasi Anda” atau “Anda memiliki kesempatan untuk menghasilkan keuntungan 80% dari nilai investasi Anda”.

Walaupun informasinya sama, cara framing yang berbeda bisa Kita cenderung lebih takut pada risiko kecil atau kejadian yang jarang terjadi, walaupun risiko ini mungkin tidak signifikan dalam skala besar.Sebaliknya, kita mungkin gak memberikan bobot yang cukup pada risiko besar atau risiko yang terjadi secara rutin, karena kita cenderung

Untuk menghindari hal-hal tadi, Kahneman ngerekomendasiin kita untuk pakai sistem berpikir lambat. Sistem ini adalah cara berpikir yang lambat, rasional. Sistem ini juga melibatkan pengambilan keputusan yang didasarkan pada analisis yang lebih mendalam dan objektif.

Kesimpulannya

Kecenderungan manusia untuk membesar-besarkan hal kecil dapat mempengaruhi banyak aspek kehidupan, dari evaluasi pribadi sampai urusan pekerjaan. Untuk menghindarinya, penting untuk berpikir dengan sistem pikiran lambat, serta melakukan evaluasi yang obyektif, dan mempertimbangkan faktor-faktor lain yang mungkin lebih penting agar keputusan yang kita buat bisa lebih rasional.

--

--