Law of UX: Law of Prägnanz

Aditya Osama Hakim Efendy
2 min readMar 24, 2022

People will perceive and interpret ambiguous or complex images as the simplest form possible, because it is the interpretation that requires the least cognitive effort of us.

Pada saat pertama kali membaca mengenai Law of Prägnanz, mungkin bertanya-bertanya. Apa maksudnya? Law of Prägnanz adalah salah 1 dari 20 laws of ux yang berawal dari Max Wertheimer saat mengamati serangkaian lampu yang berkedip dan mati di perlintasan kereta api. Bagi Max Wertheimer itu seperti solah-olah satu cahaya yang bergerak di sekitar, bergerak dari satu lampu ke lampu yang lain, padahal itu adalah serangkaian lampu yang menyala dan mati.

Dari pengamatan Max Wertheimer ini mengarah kepada prinsip deskriptif tentang bagaiamana kita melihat objek secara visual. Untuk dapat lebih memahaminya, kita bisa melihat contoh berikut.

Contoh penerapan dari Law of Prägnanz adalah lukisan seni oleh Salvador Dali di bawah ini, di mana ia menciptakan ilusi anjing dan wajah pada lukisannya. Untuk melihatnya tergantung dari perspektif dan pengalaman hidup yang menghasilkan ilusi yang berbeda-beda tiap orang.

Pada awalnya kita melihat wajah dan anjing, tetapi jika kita melihat lebih lama dan memperhatikan tiap bagian-bagian individu yang membentuk suatu objek. Konsep dasar dari Law of Prägnanz ini adalah bahwa kita melihat gambaran besarnya, sebelum bagian-bagian kecilnya.

Bagaimana jika gambarnya kita balik ? Kita kehilangan ilusi yang tadi kita lihat sebelum gambarnya di balik

Law of Prägnanz merupakan nama lain dari “The Law of Good Gestalt”. Sebagai manusia kita suka memahami dengan cepat hal-hal yang berantakan menjadi sederhana. Dalam desain kita bisa menerapkan untuk membuat kerangka konsep baru dari desain website ini membantu kita sebagai desainer dan pengguna untuk dapat memberikan umpan balik dari rancangan dengan cepat tanpa perlu membuat isi kontennya.

LinkedIn

--

--